Januari 25, 2008

WAWANCARA MAJALAH “TEMPO” DENGAN ASAHAN AIDIT*

Asahan Aidit: Sastra Tak Bisa Dihambat Rasa Iri Hati

PADA usia 69, ia masih terlihat sehat dan segar. Suhu dingin menusuk tulang di pengujung musim gugur tak menghambatnya menyambut ramah Tempo di tepi jalan. Asahan Aidit kemudian mengajak menyusuri lekuk liku kompleks tempat tinggalnya di Hoofddorp, daerah pinggiran Schiphol, Belanda.

Rumah petak bertingkat yang dihuninya tipikal rumah-rumah pinggiran kota. Di sanalah ia menetap sejak 1984. Istrinya, Sen–seorang perempuan Vietnam–sedang ke luar rumah. Detak jam tua di atas lemari terdengar seperti waktu yang terus mendesak.

Banyak sudah peristiwa yang dilalui pria kelahiran Tanjung Pandan, Belitung, 4 Desember 1938, ini. Sebagai anggota PKI dan adik Dipa Nusantara Aidit, dia tertahan di negeri jauh, dimusuhi banyak orang, dan beberapa kali terpaksa mengganti nama.

Semua luka itu belum kering, tapi Asahan menganggapnya sudah berlalu. Baginya, yang terpenting sekarang adalah hidup tenang bersama sang istri. “Saya bukan utopis,” katanya. “Saya realistis. Dunia berubah, masa lalu tertinggal di belakang.” Dia kini menenggelamkan diri dengan dunia yang dicintainya sejak dulu: menulis prosa dan puisi. Sambil menghirup kopi panas, ia menuturkan banyak hal kepada Asmayani Kusrini dari Tempo.

Bagaimana pergaulan Anda sebagai sastrawan pada 1960-an?

Saya bersastra sendirian. Saya bukan anggota Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat–Red.), meski saya tahu tokoh-tokoh Lekra. Abang saya sendiri, Sobron Aidit, adalah tokoh Lekra yang aktif. Saya kadang-kadang ketemu mereka, Agam Wispi misalnya. Tapi saya juga ketemu semua orang. Saya mengirim sajak ke mana-mana, tidak terbatas pada terbitan Lekra. Waktu itu sajak saya belum banyak, tapi sudah masuk Mimbar Indonesia, Waktu, dan lain-lain.

Apa tema puisi Anda saat itu?

Bebas. Saya enggak pernah membuat program dan membatasi diri dengan tema tertentu. Begitu terpikir apa saja, saya tulis. Saya lihat kehidupan gembel atau pelacur di Jakarta, ya, saya tulis.

Anda tidak bergabung dengan kelompok sastrawan mana pun?

Enggak, sama sekali tidak.

Mengapa tidak?

Memang tidak tertarik. Saya hanya merasa, bila saya menulis, saya tidak mewakili siapa-siapa kecuali diri saya sendiri. Abang saya yang Ketua PKI tidak pernah bertanya apakah saya anggota Lekra. Dia sangat peka, dan tahu harus sangat berhati-hati bila berhadapan dengan para sastrawan atau seniman.

Aidit tak pernah meminta Anda menjadi anggota Lekra?

Bila abang saya salah bertanya, umpamanya, mengapa saya tidak menjadi anggota Lekra, dia akan terjerumus oleh jawaban saya: “Mengapa harus menjadi anggota Lekra?” Dan bila dia berani memberikan jawaban, “Ya, sastrawan komunis harus masuk Lekra, itu wajar saja,” pasti akan saya jawab, “Apakah tanpa menjadi anggota Lekra, keanggotaan PKI saya lalu batal?”

Bukankah Lekra identik dengan PKI?

Seniman atau sastrawan selalu makhluk rumit. Karenanya, PKI tidak pernah mengendalikan Lekra seperti yang banyak dipikirkan orang. Makhluk liar itu bila dikendalikan siapa saja akan cepat bubar dan berantakan. Lekra tidak pernah bubar selama berdampingan dengan PKI karena PKI bisa memahami kepekaan makhluk liar itu dan membiarkan keliarannya dalam pengaruh baik PKI.

Ada contoh keanehan seniman Lekra?

Jangan jauh-jauh. Sobron waktu itu sudah terkenal namanya sebagai seniman dan penyair. Suatu hari, saya saksikan dia datang ke rumah, ngobrol. Dengan spontan dia cerita, “Wah, saya baru saja baca buku. Bagus banget.” Buku apa? Dale Carnegie. Judulnya How to Win Friends and Influence People. Menurut Sobron, dia sudah mempraktekkan ilmu dari buku itu. Ternyata hasilnya luar biasa.

Apa anehnya membaca buku Dale Carnegie?

Karena buku itu menganjurkan pembacanya rajin memuji orang lain sehingga orang tersebut mengikuti kemauan kita. Abang saya, Aidit, mengatakan, “Itu kan ilmunya borjuasi, ilmu untuk nipu orang”. Saya pikir betul juga. Memuji-muji orang supaya dia senang sama kita, itu kan nipu. Itu beda banget dengan ideologi komunisme. Komunisme itu menyenangkan kehidupan rakyat. Tapi pengaruh buku itu sangat kuat pada diri Sobron. Sampai kematiannya, ia punya teman banyak di mana-mana. Dia pandai bergaul. Itu bukan bakat. Ada ilmunya itu.

Jadi bagaimana persisnya PKI memandang Lekra?

Isi kepala seorang seniman sulit diubah. Partai menyadari seniman sangat sulit diurus. Tapi bahwa ada Lekra, ada organisasi seniman, itu baik. Lekra bukan organisasi revolusioner. Orientasinya kepada rakyat. Dia mempromosikan kesenian rakyat. Itu kan baik semua. PKI tidak punya kuasa atas Lekra. PKI tidak pernah menyuruh ini-itu ke Lekra. Enggak mungkin bisa.

Bukankah orientasi kepada rakyat merupakan program PKI?

Di sini kan yang penting garis. Garis PKI tidak ada dalam Lekra. Kalau sejalan, ya. Itu karena dia punya moto: kesenian mewakili rakyat. Itu sesuai dengan cita-cita PKI. Tapi bukan berarti Lekra sudah jadi cabang suara PKI. Itu sama sekali tidak benar. Lekra sangat sulit dikemudikan. PKI menyadari soal itu, jadi boro-boro mau ngasih instruksi.

Anda menyukai kebebasan. Karena itu, tak mau bergabung dengan Lekra?

Lekra saya anggap terlalu antusias. Mereka sangat antusias membatasi karya untuk rakyat. Pokoknya, harus mewakili rakyat! Galak, deh.

Ketika Manifes Kebudayaan diumumkan, Anda di Moskow. Apa pendapat Anda tentang soal itu?

Tentang Manifes Kebudayaan, saya tidak banyak menerima informasi. Bahkan di dalam partai sendiri tidak pernah ada diskusi mengenai itu. Saya dengar pembicaraan dalam koridor universitas dari sesama teman mahasiswa Indonesia. Situasi yang saya dapatkan ketika itu ialah kalangan militer semakin panik karena meningkatnya pengaruh PKI di tubuh mereka.

Sikap kalangan PKI sendiri seperti apa?

Ketua PKI pernah mengatakan, “Siap-siap bila piring mangkuk akan berpecahan.” Peringatan itu lalu ditafsirkan orang secara salah kaprah, terutama sesudah G-30-S, seolah PKI akan mengadakan pemberontakan. Padahal peringatan semacam itu justru karena PKI, yang menempuh jalan damai, harus pandai karena tidak punya senjata dan tidak bermaksud memberontak, agar menyiapkan diri pagi-pagi untuk mempertahankan diri, menyelamatkan diri.

Setelah puluhan tahun, aktivis Lekra, Kohar Ibrahim, menulis bahwa Manifes Kebudayaan mempanglimakan politik kaum militer. Mereka, menurut dia, menjalankan politik yang paling kotor dan keji. Apa pendapat Anda?

Kohar Ibrahim adalah teman baik saya. Saya menghargai pendapatnya, tapi bukan berarti saya setuju dengan semua pendapatnya. Seperti yang sudah pernah saya katakan, panglima saya adalah saya sendiri. Panglima orang lain panglima orang lainlah. Perdebatan antara Lekra dan penanda tangan Manifes Kebudayaan sesungguhnya perang Pram (Pramoedya Ananta Toer– Red.) pribadi dengan mereka. Tidak bisa kita katakan bahwa itu adalah perdebatan antara Lekra dan Manifes Kebudayaan. Coba aja baca. Semua itu kan kata-kata Pramoedya?

Jadi Pramoedya tidak mewakili Lekra?

Pram tidak mudah mewakili orang banyak. Perdebatan itu tidak seratus persen Lekra versus Manikebu. Yang pokok itu Pram. Itu adalah bahasanya Pram, bukan bahasa Lekra. Lekra itu kan banyak? Enggak mungkin mereka menyuruh Pram ngomong. Pram aja yang jawab semua. Coba saja lihat seniman-seniman sekarang. Jangankan dulu, sekarang saja seniman-seniman masih berkelahi enggak jelas. Seniman itu enggak mungkin disetir. Masak, anggota Lekra begitu mudahnya disetir oleh PKI? Enggak ada itu.

Mencuatnya kembali perdebatan lama antara Manifes Kebudayaan dan Lekra apakah bermanfaat bagi generasi sekarang?

Tergantung perkembangan perdebatan itu sendiri. Mungkin saja masih ada manfaatnya, tapi mungkin saja tidak, dan hanya menimbulkan rasa perseteruan yang terbangunkan kembali, dan tidak produktif. Namun perdebatan yang tergelincir kembali mempersoalkan sastra untuk siapa, seni untuk seni, seni untuk rakyat, humanisme universal, realisme sosialis, dan semacamnya sudah tidak pada tempatnya dan kontraproduktif di abad kita sekarang ini.

Mengapa kontraproduktif?

Jangan menjegal jauh-jauh, dan menetapkan sastra untuk siapa, dan harus bagaimana. Itu akan mematikan kreativitas, bahkan bisa menghambat perkembangan sastra itu sendiri. Sastrawan sebaiknya lebih banyak memikirkan bagaimana karyanya bisa menarik dan enak dibaca, daripada terlalu sibuk memikirkan atau menentukan saya menulis untuk siapa dan mengabdi apa.

Apa salahnya berpikir seperti itu?

Buat apa berpikir mengabdi siapa: rakyat atau seni? Kalau karyanya jelek, akhirnya tidak untuk siapa-siapa dan tidak mengabdi apa-apa kecuali menghasilkan tumpukan kertas tak berguna, yang bak “pencalang sarat tiada ke timur tiada ke barat”. Tapi, kalau perdebatan beralih ke arah penilaian kembali perkembangan sastra Indonesia ataupun kemacetannya, dan menemukan sebab-sebabnya, itu mungkin akan punya nilai produktif.

Anda melihat sastra Indonesia mengalami kemacetan?

Sastra Indonesia, baik modern maupun klasik, terlalu sedikit yang “go international”. Sedikit yang diterjemahkan ke dalam bahasa asing, terutama ke dalam bahasa modern seperti Inggris, Prancis, Jerman, dan Spanyol.

Apakah masih mungkin muncul manfaat dari perdebatan sastra?

Bila bisa mengarah ke satu perdebatan produktif dan menemukan pemikiran-pemikiran baru, perdebatan apa pun bisa bermanfaat. Tidak tergantung apakah “lagu lama” atau “barang basi”. Jadi kita tak perlu cepat-cepat apriori menyetop perdebatan antara Lekra dan Manifes Kebudayaan. Indonesia sedang ketagihan, bahkan maniak, berdebat dan bertengkar, dan ribut-ribut. Jangan semuanya disetop. Kadang-kadang masturbasi verbal juga perlu dilampiaskan.

Ada yang menuding Anda mendiskreditkan dan mengkhianati abang sendiri, setelah membaca buku-buku Anda.

Tudingan itu pernah saya jawab melalui Internet. Saya katakan, jelas orang yang menuding demikian tidak membaca buku-buku saya, atau membaca tapi tidak mengerti. Atau dia cuma dengar-dengar, lalu karena rasa sentimen terhadap saya, menyerang dan ingin merusak nama saya. Semacam pembunuhan karakter terhadap saya. Dan yang terjadi adalah “Anjing menggonggong kena lindas kafilah”.

Mengapa Anda menyebut diri sendiri komunis abangan?

Saya menulis roman memoar berjudul Alhamdulillah. Artinya, ada yang bersifat memoar, tapi pada pokoknya adalah sebuah karya fiksi. Roman saya yang terdahulu, Perang dan Kembang, sepenuhnya novel. Tapi, dalam sebuah resensi di Kompas, penulis resensi memperlakukan roman itu sebagai otobiografi saya. Itu kekeliruan besar. Saya tidak menulis roman otobiografi.

Mungkin karena sang tokoh dalam roman itu menyebut dirinya “Aku”?

Kalau protagonis dalam roman itu menyebut dirinya “Aku”, itu tidak bisa diidentikkan sebagai sang penulis roman. Bila sang protagonis mengakui dirinya sebagai “komunis abangan”, itu kan bisa diartikan sebagai otokritik darinya dan juga mungkin bisa berlaku pada banyak orang lain yang sebarisan atau sejenis dia. Kalau tuduhan otomatis dilemparkan kepada sang penulis, itu sudah terang bukan pendapat pembaca yang cerdas.

Banyak hal sekarang sudah berubah. Apakah Anda juga mengalami perubahan ideologi atau pemikiran?

Tentu saja saya turut berubah dan, karena itu pula, pikiran-pikiran baru saya ditentang oleh sementara orang, terutama sebagian kecil orang bekas satu kandang dengan saya di waktu lalu. Pikiran baru saya harus dicari dalam berbagai buku yang saya tulis, yang sudah diserang oleh sejumlah kecil orang.

Sebagai sastrawan eksil, apakah Anda merasa terpaku pada Tanah Air dan itu menjadi semacam pagar kreativitas?

Saya menulis tentang manusia-manusia bangsa saya dan di tanah air saya, tapi saya juga menulis pengalaman-pengalaman selama berada di luar negeri, terutama ketika masih jadi mahasiswa di berbagai negeri. Saya tidak punya “pagar kreativitas”, tapi memang kadang-kadang menemui “kebuntuan kreativitas”.

Apa yang Anda lakukan ketika mengalami kebuntuan dalam berkarya?

Bila itu terjadi, saya tak memaksa diri. Tenang saja di rumah, dan mulai membaca secara lebih intensif. Bagi saya, membaca dan berkreativitas sama pentingnya. Dua-duanya saya lakukan bila ada hasrat. Bila sedang tidak ada hasrat, saya jalan-jalan sepanjang hari dan “persetan dengan sastra!” hingga “setan” itu kembali menyalami saya. Pemaksaan dalam kreativitas adalah kegagalan, dan itu sangat membunuh semangat.

Bagaimana cara Anda mengikuti perkembangan dunia sastra Indonesia sekarang?

Saya terpisah dengan Tanah Air begitu lama, bahkan akan hampir seumur hidup. Sastra Indonesia saya ikuti dari buku-buku yang sebagian besar disuplai oleh teman saya, Ayip Rosidi. Belakangan juga dari berita-berita tak seberapa di Internet. Saya tidak bisa melihat perkembangannya dari dekat dan langsung. Hak bicara saya sangat sedikit, atau mungkin saya tidak punya hak bicara.

Apa penilaian Anda terhadap sastrawan dari generasi lebih muda?

Saya kira munculnya seorang Ayu Utami dalam sastra Indonesia modern bisa membuka perspektif yang menginternasional. Dia seorang pengarang wanita yang berani mengatakan semua saja yang dia rasakan, lihat, dan alami dengan bahasa jelas, terus terang, tapi tidak banal. Bahkan terasa mendalam meskipun terkadang bisa berdiri bulu kuduk. Tapi justru di sini salah satu keunggulan Ayu Utami.

Tahukah Anda, gaya penulisan Ayu Utami diserang oleh beberapa pengarang lain?

Dia masih banyak keunggulannya yang lain, dan itu bagi pengarang yang tidak satu selera dengannya bisa menimbulkan rasa iri hati. Tapi kesusastraan tidak bisa dihambat hanya dengan iri hati. Sastra selalu kompetisi yang tak habis-habisnya, dan para pemenang silih berganti. Ada yang menjadi pemenang klasik, ada yang macet di tempat, ada yang tenggelam sama sekali.

Mungkinkah ada hegemoni dalam dunia sastra?

Sastra tidak cuma estetika semata, tapi juga ideologi, bahkan bisa politik. Tapi sastra juga sebuah kamar kosong yang bisa dimasuki siapa saja, lalu memberikan papan nama pada pintunya masing-masing. Sastra bukan sebuah gedung raksasa milik orang-orang tertentu, melainkan berjuta-juta kamar kosong yang menunggu peminat dan pemiliknya. Lalu setiap peminat sastra bisa mengetuk sendiri kamar-kamar mana yang dia sukai setelah dia berkenalan dengan si pemilik kamar.

Di antara pemilik kamar bisa terjadi pertengkaran?

Bila terjadi pertengkaran di antara tetangga kamar sastra, sebaiknya jangan sampai main bakar. Setiap sastrawan punya hak atas  kebebasannya sendiri-sendiri. Boleh bertengkar, tapi tak perlu mengarah ke ekstremitas. Bangunlah kompetisi yang sehat dan menyehatkan sastra itu sendiri.

+++++

Asahan Aidit

Tempat dan tanggal lahir:

Tanjung Pandan, Belitung, 4 Desember 1938

Pendidikan:

Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 1961
Magister, Fakultas Filologi, Moskow, 1966
Doktor, Universitas Hanoi, Vietnam, 1978

Kegiatan:

Mulai menulis sejak 1950-an.
Kumpulan puisi dan prosanya diterbitkan dalam berbagai buku.

Menjadi eksil sejak 1965, tinggal di berbagai negara: Uni Soviet, Cina, dan Vietnam. Sekarang menetap di Belanda.

(Wawancara Majalah Tempo, 25 November 2007)

* Wawancara ini sudah dimuat dalam majalah “TEMPO”  edisi 26-11-2007

Januari 25, 2008
Terzina HARI KEMERDEKAAN

Kita sebut seperti demikian
Pada setiap hari kemerdekaan
Yang belum hari pembebasaan

Kita sebut proklamasi
Yang lalu jadi tradisi
Yang kini sudah 61 kali

Penjajah luar memang telah terusir
Penjajah dalam muncul sebagai kusir
Mencambuki rakyatnya yang dianggap takdir

Ya, merdeka untuk yang lapar kuasa
Tidak, untuk yang merayap bagai Paria
Pembagian harta dengan timbangan Jahilliah

Lihatlah taman surgawi di gurun sampah
Berhias istana beribu villa dan gedung senjata
Dikitari tinja, gubuk liar dan jamban raksasa

Puisi tak bisa ditulis romantis
Oleh gerombolan para iblis
Abadi mulut ternganga: Awas bahaya Komunis!

Kita nikmati ini kemerdekaan
Dalam pembuangan maupuh di kandang sendiri
Dalam lapar, kemiskinan tanpa keadilan

Satu tujuh delapan tahun empat lima
Itulah awal kemelaratan kita
Sekali merdeka tetap  menderita

Memang orang besar telah menjadi kaya
Masih neraka dari sisa yang ratusan juta
Tinggi gunung seribu janji, lagu basi setiap hari

Pidato tahunan tak pernah absen di gedung dpr-ran
Membacakan laporan gemilang  hasil penjarahan
Gemah ripah loh jinawi semuanya kaya dari korupsi

Puisi ini memang puisi poster
Yang lahir tanpa kaliber
Agar menguak menjadi panser

Terpelanting dari dunia sastra
Demi mengusik orang-orang fasik
Bermuka tembok berhati jangkrik

Merdeka, merdeka, merdeka…
Menderita, menderita, menderita…
Rakyat ditindas harta negara ludas

Satu tujuh delapan tahun empat lima
Satu tujuan satu hati satu langkah
Merebut pembebasan menggulingkan kaum serakah

Bisai (Asahan Aidit)
Hoofddorp, 1782006

Thu Aug 17, 2006 4:52 pm
http://groups.yahoo.com/group/sastra-pembebasan/message/35741

Januari 25, 2008

MARAH DAN DENDAM

Kita simpan ini marah dan dendam
Karna ini harta rakyat dan perjuangan
Kita simpan ini marah dan dendam
Karna marah dan dendam dapat dibenarkan

Kita simpan ini marah dan dendam
Karna itulah yang diberikan musuh pada kita
Kita simpan ini marah dan dendam
Karna ini sebuah lanjutan hidup kita

Kita simpan ini marah dan dendam
Selama musuh tak bertekuk lutut
Kita simpan ini marah dan dendam
Karna cuma itu senjata kita

Kita simpan ini marah dan dendam
Tanpa menghiraukan isme yang sudah kalah
Kita simpan ini marah dan dendam
Mesti kita masih lemah

Kita simpan ini marah dan dendam
Bagai munisi yang masih dalam gudang
Kita simpan ini marah dan dendam
Bila berani bilang apa itu perjuangan

Kita simpan ini marah dan dendam
Bagi menghancurkan ilusi tiga generasi
Kita simpan ini marah dan dendam
Bila berani menghancurkan sejarah yang kelam

Kita simpan ini marah dan dendam
Karna cuma inilah jalannya
Menuju perlawanan yang menentukan
Merebut kemenangan ahir
Yang akan kita hadiahkan
Pada rakyat dan tanah air

Bisai (Asahan Aidit)
Hoofddorp

Tue Aug 15, 2006 7:28 am
http://groups.yahoo.com/group/sastra-pembebasan/message/35535

Januari 25, 2008

asahan-aidit-2006.jpg

Januari 25, 2008
ELEGI SEBUAH ORDE

Sebuah orde yang dibangun dengan nisan
Dan tanpa nisan pernah
Menggarap semua yang tiarap
Barisan riuh langkah berderap
Mengundang sabillilah pesta darah
Awalmula jendral yang digulingkan prajurit
Petualang berbintang iba-tiba terbangun lalu menghadang
Awan gelap menyelimuti sungai darah dibumi
Dan jadilah sebuah sejarah buta
Yang tak tercatat
Dalam diktat
Dari mimpi buruk ke mimpi indah seorang jendral
Hikayat dan dongeng horor dijadikan sebuah sastra bual
Kepala rakyatnya dibikin empat persegi
Mirip Frankestein yang rindu mati
Otak menjadi majal oleh operasi trisula
Hanya bisa mengucap satu kata: KOMUNIS !

Petualang berbintang telah rentan dan renta
Warisan penyangga berbaris di dua sisi kursi roda
Setia dan juga hianat pada dirinya
Aubade sebuah generasi di ambang gerbang makam raksasa

Bisai (Asahan Aidit)

Wed Jun 7, 2006 10:21 pm
http://groups.yahoo.com/group/sastra-pembebasan/message/30169

Januari 25, 2008
IN MEMORIAM BUNG SO*
(S. Soerjo Soebroto)

Di Vietnam kau telah pimpin bermacam grup juang
Menurut istilah kita yang garang
Pontang- panting antara patriot dan patrian
Betapa pandai itu tukang solder
Kebocoran politik tambalan ideologi yang minta dihormati
Ahirnya kau diusir diganti orang dari satu pesisir
Lalu juga diusir sesudah dihormati kemudian dibenci
Karna kita tak punya identitas
Dan hanya punya pinjaman
Dari peminjam yang juga terhunjam
Dan begitulah
Kau yang dulu klas kader
Dan kami yang dulu klas kambing
Di tanah pinjaman selanjutnya
Semua kita cuma dapat satu klas
Klas orang buangan
Setingkat lebih rendah
Dari klas kambing
Yang pernah kami raih
Tapi kita lebih bisa
Saling menghargai
Karna telah dilucuti
Dari klas proforma
Karna kekalahan
Milik kita semua
Bukan cuma milik
Orang-orang klas kambing
Tak ada lagi yang bisa dijual
Ex-anggota Kostituante
Atau kader CC atau politbiro
Riwayat hidup kita tidak ada yang bersinar
Orang kalah tak akan bisa bangun
Dengan menghidupkan mayat pangkat masa lalu
Atau menjejerkan jasa di depan musuh
Atau bikin organisasi minta diangkat jadi kader revolusi

Sekarang kau pergi sebagai orang biasa
Itu lebih baik bagimu
Daripada sebagai kader multigagal
Cerita tentangmu akan aku pisahkan
Antara riwayat politikmu
Yang akan diharumi dupa tradisionil
Dalam setiap upacara seperti ini
Bagi orang orang yang tak mengenalmu
Demi hormatnya upacara
Kemasnya tata tertib
Dan abadinya adat disaat perpisahan terahir

Tapi antara aku dan kau
Di luar rapat bukankah ada juga kemesraan
Ketika berjalan jalan sore sore habis makan
Menyusuri pematang sawah Vietnaam yang indah
Kita cerita segala macam
Jauh dari politik apalagi organisasi
Ideologi kita masukkan ke saku belakang
Apa yang tidak kita percakapkan
Dari skandal sex hingga pinjam uang
Ketika itu kau lupa kau kader
Aku lupa aku kambing
Dua- dua kita menjelma jadi manusia
Bukankah itu indah terkenang hingga sekarang
Dari cerita cerita jorok yang kita tertawakan
Dan juga yang kita bikin
Dan orang lain bikin
Dan kader kader bikin
Sejenak kita lepaskan
Gunung kemunafikan
Yang setiap hari
Ditumpuk oleh politik
Oleh kepalsuan
Dan penipuan diri sendiri
Semua telah kita tertawakan
Dan kita akui
Sebagai keloyangan kita
Sebagai kehinaan kita bersama
Tapi dalam setiap rapat
Kita kembali menjadi lain
Dan hingga sekarang masih kita ulangi
Hingga kepergianmu hari ini
Aku sedih bukan semata kehilanganmu
Tapi oleh kehinaan kita semua
Yang hingga kini masih melekat
Seperti daki yang tak mempan karbol
Munafik dan takabur
Tapi selalu ingin dihormati
Bahkan di negeri buangan
Yang pernah kau tinggali sekarang

*Bung So atau Dong Chi So adalah nama Vietnam atau nama
panggilan untuk bung S. Soerjo Soebroto selama beliau tinggal
di Vietnam.

Bisai (Asahan Aidit)

Sun Dec 3, 2006 9:32 pm
http://groups.yahoo.com/group/sastra-pembebasan/message/41621

Januari 25, 2008
IN MEMORIAM BUNG SUGENG SLAMETO*

Setiap kematian adalah drama bagi yang hidup
Setiap yang hidup menabung tragedi bagi kematiannya sendiri
Dan masih juga kita cintai hadiah yang tak pernah kita mintai
Kami masih tetap berdiri dalam antrian
Sabar atau mungkin tak sabar
Satu persatu
Dalam penungguan
Yang tak enak dibicarkan
Dan sebaiknya tak dibicarkan
Dalam pertemuan yang semakin sering terjadi
Usia cuma perbedaan angka dan tahun produksi
Selebihnya cuma bicara soal prestasi yang sudah tanpa arti
Bunga-bunga akan segra dilemparkan
Selesai upacara pembakaran dan penguburan
Sama tak abadinya dikala harum dan menguntum
Hidup dan mati cuma begini saja
Tanpa atau dengan piramid atau Taj Mahal
Debu atau tengkorak kering sudah bukan milik siapa-siapa

Namun budaya manusia adalah budaya memoar
Yang tak ada pada burung onta atau gorila sekalipun
Aku teringat padamu ketika rapat-rapat sulit
Ketika perbedaan pendapat seperti minyak dan bensin
Kau pilih kebenaran lalu berpihak
Membuatku tidak merasa sendiri
Dan juga membuat yang lain
Tidak terjungkal dari kursinya
Membuat persahabatan tidak menjadi seusia bunga
Dan di sinilah hidup dan mati  jadi punya arti.

* Nama penyair bung Sugeng adalah: Kembara

Bisai (Asahan Aidit)
Hoofddorp, 10122006

Sun Dec 10, 2006 1:09 pm
http://groups.yahoo.com/group/sastra-pembebasan/message/42106

Januari 25, 2008

KEMBANG KEMBANG GENJER…*

yang bertumbuhan di atas tanah
pekuburan massal
ciptaan ORBA

Yang paling baik dalam mengungkap sejarah kelam suatu bangsa adalah bangsa itu sendiri. Kesedaran untuk jadi bangsa beradab tidak terlepas dari kesedaran mengetahui sejarah bangsanysa sendiri di semua seginya yang kelam maupun yang jaya.

Di tangan saya, sebuah buku yang baru terbit buah tangan Fransisca Ria Susanti: “KEMBANG KEMBANG GENJER”. Sebuah buku menarik yang saya baca dalam satu tarikan nafas tapi yang menimbulkan kesan mendalam tentang pendertaan, rasa sakit, tragedi bangsa dan keluarga, kekejaman dan kebuasan manusia atas sesama manusia, penyiksaan, kebrutalan terhadap kaum lemah: PEREMPUAN dan gadis-gadis remaja oleh satu rezim balas dendam politik dan agama yang tak terperikan dahsyat dan kejinya.

Pengalaman 13 perempuan yang dituturkan dalam buku ini adalah pengalaman penyiksaan, pelecehan yang dirasakan oleh mahluk-mahluk yang tanpa dosa, tidak mengetahui apa kesalahan mereka dan bahkan ada yang hanya karena salah tangkap dalam peristiwa politik dan perebutan kekuasaan G30S-65 di Indonesia. Belasan tahun meringkuk dalam penjara yang sebagaian terbesar tanpa pernah dihadapkan  ke meja pengadilan dengan penyiksaan luar biasa sedangkan anak-anak dan keluarga mereka yang di luar penjara harus menanggung beban  yang tak terperikan beratnya dalam mengasuh, memelihara anak-anak yang ibu bapanya ditangkap dan dipenjarakan selama belasaan tahun

Organisasi Perempuan GERWANI yang dicap onderbouwnya PKI dan ditambah satu lagi sebagai organisasi para pelacur yang sadis dan kejam, menyilet dan memotong kemaluan para Jendaral yang ditangkap dan dibawa ke LUBANG BUAYA, yang dalam kenyatanannya adalah cuma “Maling teriak maling” tapi yang sesungguhnya sudah “Biadab teriak biadab” yang itu telah dibuktikan di semua ruang interogasi dan para interogator.

Fitnah dan bohong adalah ideologi semua penyiksa dan rezim diktator waktu itu. Para ideolognya dipersenjatai dengan sen -jata sungguhan, spier, kebrangasan, tanpa ampun dan tanpa moral: sering memperkosa perempuan-perempuan yang  diperiksanya disamping sebagai pendukung setia PANCA SILA (Kesaktian Panca Sila). Metode fitnah dan bohong mereka sangat sederhana: berani menjejalkan yang paling tidak masuk akal sekalipun atau bohong tingkat paling rendah sekalipun asal  dengan kegigihan dengan pertolongan koran-koran dan media lainnya, bahkan dengan film untuk memaksa massa agar percaya, secara terus menerus dengan mutlak suara tunggal, mutlak tabu sanggahan, mutlak harus diakui sebagai kebenaran yang jika tidak celakalah seluruh hidupmu, keluargamu, teman-temanmu dan bahkan seluruh sisa-sisa generasimu.Sebuah goresan sejarah kelam bangsa yang ditulis dengan darah di dinding-dinding semua penjara dan ruang penyiksaan: Kekuasan, senjata dan rezim politik adalah penyangga semua kebohongan  dan fitnah dan akan dijadikan ideologi seluruh massa rakyat. Dan lalu buta tuli terhadap kutukan Internasional, opini Internasional dan bahkan Amnesti Internasional.

Tapi sebuah panggung politik yang betapa pun kejam dan merosot moralnya, betapapun pernah kuat dan jaya, betapapun luas gurun kuburan massal yang ditinggalkannya, ia tidak akan ujud selama-lamanya dan ia pasti tumbang suatu waktu dan pada waktunya ia akan mempertanggung jawabkan semua perbuatannya, tidak ia yang langsung berhadapan, anak cucunya yang akan berhadapan. Ini tidak semata logika sejarah tapi juga dinamika kehidupan, tak satu rezimpun yang bisa lolos, mau atau tidak mau.

Ketika saya membaca buku ini (Kembang Kembang Genjer) saya lalu teringat apa yang pernah saya dengar dari pengalaman-pengalaman revolusi Vietnam dalam melawan kaum Kolonialis Perancis lalu Fasisme Jepang dan terahir Agresi Amerika Serikat. Rakyat dan kaum revolusioner adalah sasaran kekejaman musuh, sasaran pembunuhan dan penangkapan musuh, sasaran penghancuran dan pelikwidasian musuh. Puluhan tahun saya mendengar sejarah kekejian, kekejaman, darah dan penjara dan sebagian juga saya baca dalam buku-buku, dokumen dan juga karya-karya sastra. Semuanya adalah catatan sejarah yang telah diabadikan oleh rakyat Vietnam dengan kemenangan gemilang meskipun dengan pengorbanan yang luar biasa besar dan pahitnya.

Rakyat Indonesia baru memulai membongkar dan menguak sejarah yang dikelamkan, digelapkan, dipalsukan oleh penguasa mereka selama puluhan tahun. Rakyat Indonesia belum mencapai kemenangan dalam melawan penindasan, pemerkosaan, ketidak adilan yang telah dideritanya entah berapa abad yang lalu oleh para penguasa yang saling berganti, asing maupun bangsa sendiri.

Tanpa sejarah yang benar, suatu bangsa tidak mungkin melanjutkan hari depannya dengan gemilang, tidak mungkin menempuh jalan kemenangan dalam perjuangannya merebut kebebasannya sendiri. Dengan sejarah gelap dan kelam tidak ada satu perjuanganpun yang akan berhasil dan menang, sama halnya dengan para penggelap dan pemalsu sejarah bangsanya, mereka tidak akan pernah bisa ujud lama dan akan selalu terjungkal. Karna sejarah adalah pedoman, kompas sesuatu bangsa dalam perjalanannya ke kehiduapan yang lebih sempurna dan ideal.

Buku Fransisca Ria Susanti ini adalah juga sejenis buku penguak, penerang, dan juga pembongkar sejarah gelap yang masih terus digelapkan oleh penguasa ORBA  dan para pendukungnya. Kita masih terlalu banyak memerlukan tulisan seperti ini, masih terlalu, terlalu banyak kita perlukan. Dan sekarang sudah seperti berlomba dengan waktu. Terlambat berarti kehilangan data-data sejaraah yang tak ternilai harganya. Manusia menua dan mati. Sedangkan manusia adalah sumber hidup dari sejarah itu sendiri. Karenanya sebelum mati dan sirna dari kehiduapan ini, sejarah harus tercatat lebih dahulu dengan berbagai cara, dengan berbagai alat dan  dengan berbagai kesempatan. Motto kita adalah: Mereka menggelapkan kita menerangi. Mereka memalsukan, kita memurnikan. Tidak ada jalan lain dan di sini pula terletak antara kalah dan menang dalam pertarungan yang menentukan ini.

Fransisca adalah seorang Jurnalis di bidang profesinya. Sebagai Jurnalis, terasa tulisannya sangat professional. Tapi yang saya tangkap dari gaya tulisannya, iapun punya gaya seorang sastrawan, tulisannya terkadang seperti kita membaca sebuah cerpen dan di sini saya lihat keunggulan Fransisca dalam menulis penuturan dalam bukunya. Bahasanya baik, tidak terkesan memaksa-maksa diri menulis dengan bahasa ingin lain dari yang lain. Saya punya kesan buku ini enak dibaca dengan penuturan yang lancar yang membuat pembaca otomatis ingin meneruskan bacaannya hingga selesai. Dan ini sebuah keberhasilan dan sukses. Saya kira buku ini sangat patut dimiliki bukan hanya bagi orang-orang yang punya minat terhadap peristiwa korban 65, tapi bagi semua orang yang ingin mengetahui apa itu kekejaman, apa itu penderitaan, apa itu manusia tanpa peri kemanusiaan dan yang terpenting lagi apa itu politik keji dan kotor. Semua itu ada dalam buku Fransisca ini.

Saya hanya ingin mengucapkan: selamat membaca buku yang bagus ini.

* Fransisca Ria Susanti : “KEMBANG KEMBANG GENJER”
Penerbit: Lembaga Sastra Pembebasan
Kata Pengantar: Prof.Dr. E. Wieringa Dr. Asvi Warman Adam
Terbitan Pertama September 2006, 169 halaman.

Bisai (Asahan Aidit)
Hoofddorp, 25122006

Mon Dec 25, 2006 11:17 pm
http://groups.yahoo.com/group/sastra-pembebasan/message/43002

Januari 25, 2008

MEMPERTAHANKAN INDONESIA DENGAN TIGA CARA

Anti Komunis

Meskipun di Indonesia sudah tidak ada Partai Komunis tapi ideologi Komunis masih diangghap berbahaya dan harus dilarang termasuk ajaran-ajarannya maupun yang hanya dirasakan berbau Komunisme. Kebencian akan Komunisme menyulut Penguasa untuk menanamkan ketakutan dan kewaspadaan yang berlebih lebihan terhadap Komunisme pada seluruh bangsa dan itu dilakukan dengan berbagai cara seperti  menyulap bukti-bukti kekejaman Komunis terhadap kemanusiaan, rekayasa yang tidak lagi memperhatikan etika dan bahkan logika bahwa orang-orang Komunis itu lebih kejam dari hewan, sadistis dan barbaris yang digambarkan lebih mengerikan daripada yang bisa dilihat dalam film-film horror.

Hyperbolisme dan super fantasi dalam mem-barbarkan Komunisme dan orang-orang Komunis perlahan-lahan telah kehilangan keampuhannya, menjadi banal yang bahkan tidak lagi mermbikin tercengang orang-orang yang paling naif sekalipun sebagai akibat terlalu banyak garam yang membikin hidangan masyarakat politik menjadi tak bisa lagi dimakan dengan cita rasa yang normal. Orang-orang semakin haus akan kebenaran, mencari kebenaran dan bosan akan manipulasi yang setiap hari dihidangkan para penguasa dan para pendukungnya sebagai santapan politik bagi rakyatnya. Terutama orang-orang muda ingin menguak makna sesungguhnya dari peristiwa politik dramatis dan tragedis di waktu lalu dan tidak sekedar hanya dicekoki propaganda anti anti Komunis yang ingin dilanggengkan sepanjang masa yang akibatnya cuma membuat orang menjadi semakin bodoh, tidak kritis dan ahirnya kembali buta politk dan politik cuma berarti tunggal: anti Komunis!

Budaya Korupsi

Korupsi adalah penyakit masysarakat, penyakit sistim atau rezim yang bisa terdapat dalam bangsa dan negera manapun. Sebagai penyakit atau gejala penyakit, ia bisa diobati, bisa dikurangi asalkan ada kesedaran bahwa penyakit demikian bila dibiarkan terus  berkembang akan membuat si sakit, atau bangsa atau negara tertentu akan bangkrut total dan bahkan hingga rubuh tak tertolong yang akan menghilangkan sebuah identitas sebuah bangsa atau negara. Korupsi adalah kekayaan kolektif atau negara atau bangsa yang digerogoti secara perlahan lahan oleh para koruptor dari yang kecil hingga yang paling besar demi kepentingan diri sendiri atau golongan atau Partai atau suatu rezim tertentu. Penggerogotan atau perampokan yang terlindung oleh sistim birokrasi atau administrasi yang tidak baik atau tidak akurat, membuat tindakan atau perbuatan korupsi tidak tersentuh atau sukar disentuh oleh hukum karena komplotan atau para penguasa otoriter yang membuat dirinya kebal hukum dengan berbagai cara yang biasanya tidak sulit dalam suatu negara  yang tidak demokratis atau diktator. Budaya korupsi berarti korupsi sudah bukan satu gejala atau penyakit biasa tapi sudah menjadi kebiasaan yang telah dianggap normal oleh para koruptor maupun oleh masayarakat yang juga melakukan korupsi  dalam cara hidupnya sehari hari. Untuk sebagian kaum penguasa negara, korupsi bahkan dilindungi oleh hukum atau aparat hukum. Budaya korupsi adalah korupsi besar-besaran dalam skala nasional yang dilakukan mulai dari sebagian besar kaum penguasa hingga ke seluruh rakyat dengan segala cara yang mungkin dilakukan dan dengan setiap kesempatan  yang tak pernah dibiarkan lalu begitu saja. Budaya korupsi dalam skala nasional ini bisa juga disebut sebagai cara bunuH diri kolektif dengan cara meminum racun  yang terasa lezat untuk mati perlahan lahan dan tak terselamatkan.

Sejarah dan pemalsuan sejarah

Setiap bangsa yang lahir tentu mempunyai sejarah kelahiran bangsanya masiung-masing. Sejarah adalah buku petunjuk untuk membangun hari depan suatu bangsa. Meskipun sejarah adalah kejadian masa lalu tapi dia tidak bisa dihapus begitu saja bila ingin meneruskan kelangsungan hidup suatu bangsa karena dalam sejarah tercatat pengalaman besar, peringatan besar dan juga petunjuk besar agar suatu bangsa punya pedoman  atau kompas  yang tepat untuk bisa berjalan maju kedepan dan tidak mundur ke belakang. Tapi sejarah bisa dimanipulasi atau dihapus kebenaran peristiwa yang telah pernah terjadi, menjadi sesuatu yang lain demi kepentingan tertentu oleh suatu rezim penguasa negara tertentu. Umpamanya yang menjadi pahlawan bangsa yang sesungguhnya si A, sekarang adalah si B yang sedang berkuasa. Pendiri bangsa yang sesungguhnya adalah terdiri dari ABCD, sekarang adalah cuma si E dan segala macam kebenaran sejarah lainnya yang dirubah, direvisi besar-besaran dan mendasar dengan cara pemutarbalikan, fantasi dan penipuan-penipuna yang sama serkali menyimpang dari catatan sejarah yang asli dan sesungguhnya. Tidaklah berlebihan kalau dikatakan, membangun suatu bangsa pertama-tama, membuka halaman awal dari catatan sejarah bangsa itu. Karenanya pemalsuan atau manipulasi sejarah  yang bertujuan cuma menegakkan kekuasan atau hanya ingin menopang kekuasaan yang sedang berjalan dengan meremehkan sejarah sesungguhnya yang harus dijadikan pedoman, akan menuju banyak kesalahan, kegagalan dan bahkan kehancuran.

Tapi semakin jelas terlihat dan terasakan tiga komponen: anti Komunis, budaya korupsi dan pemalsuan sejarah, sebagai cara untuk menyelamat Indonesia dari kehancuran atau penyakit tak tersembuhkan dewasa ini.  Ketiga komponen ini merupakan wakil-wakil besar dari sifat anti demokrasi, kehancuran moral politik dan ideologi serta degradasi kebudayaan yang menjurus ke titik nol. Tanggung jawab berbangsa dan bernegara tak pernah begitu rendahnya seperti sekarang ini. Semua penyakit fatal ini hanya diatasi dengan demagogi dan munafik, main kuasa, main gertak, arrogant tapi juga rendah diri terhadap dunia luar yang lebih beradab. Masih adakah satu mahluk dari bangsa ini yang masih takut akan kehancuran dan kepunahan? Bila sudah tidak ada, maka relakan 17 Agustus 1945 cuma sebuah kenang-kenangan dan tak usah diperingati lagi.

Bisai (Asahan Aidit)

Fri Aug 17, 2007 12:06 pm
http://groups.yahoo.com/group/sastra-pembebasan/message/52829

Januari 25, 2008

heri-asahan-di-hoofddorp-001.jpg